Penulis : Jostein Gaarder
Penerjemah : Rahmani Astuti
Penyunting : Yuliani Liputo dan Adityas Prabantoro
Proofreader : M. Eka Mustamar
Ilustrator Isi : Guntur
Penerbit : Mizan
Cetakan : VI, Oktober 2012 (Gold Edition)
Jumlah Halaman : 798 halaman
ISBN : 978-979-433-574-1
"pada suatu titik, sesuatu berasal dari ketiadaan"
seorang gadis kecil berusia 14 tahun menerima sebuah amplop berisi tentang sesuatu yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya untuk diterimanya. Gadis yang semula hanya memikirkan sesuatu yang sederhana beralih menjadi seorang gadis yang berfikir kritis akan semuanya, akan keeksistesian sesuatu.
"Siapa yang akan menyangka bahwa amplop yang di terima oleh gadis itu adalah sebuah pelajaran filsafat yang notabenenya sangat sulit ditelaah?"
Dilema melanda gadis itu ketika ia disadarkan oleh surat hasil ketikan orang yang tidak ia kenal terus-menerus mendatanginya. beribu tanda tanya muncul di benak sang gadis yang masih belia ini.
"siapa gerangan orang ini?"
"Kenapa harus dia yang menerima materi filsafat ini?"
"Apa maksud dari pertanyaan dan penjelasan yang di jabarkan di dalam surat ini?"
Belum selesai bergelut dengan pertanyaan mengenai isi, tujuan, arti dari surat-surat yang dikirimkan oleh orang tidak dikenal itu. tiba-tiba otak gadis ini di jejali sebuah misteri yang sama rumitnya dengan pertanyaan yang belum terjawab tadi, nyaris. Ia menerima sebuah kartu pos yang ditujukan ke alamatnya, tapi bukan untuknya. Sebuah surat ucapan selamat ulang tahun oleh ayah ke anaknya. Hilde Moller Knag.
Akankah gadis itu menemukan jawaban dari maksud, arti dan tujuan surat itu? dan apakah ia akan tahu siapa sebenarnya Hilde itu? Mengapa surat dari ayah Hilde ditujukan ke alamatnya? apakah Hilde mengenal dirinya?
***
Bagaimana bisa seorang gadis kecil yang berumur 14 tahun menelaah isi surat itu?. filsafat! hal yang rumit sedimikan kompleksnya bahkan orang dewasapun sulit mengerti dan memahami ini, lantas bagaimana bisa hal yang orang dewasapun sulit untuk mengerti justeru dipaksakan masuk dan dijejalkan ke otak seorang gadis kecil berusia 14 tahun. tetapi apakah kalian yakin filsafat serumit itu? Apakah benar anak kecil tidak mampu untuk belajar filsafat? Apakah filsafatnya yang rumit atau malah para orang dewasa yang tidak mau? yakinkah kalian?
seorang gadis kecil bernama Sophie Amunsend sedang menempuh jalan pulang menuju rumahnya bersama sahabanya Joanna. Mereka sedang membicarakan robot. Sophie tidak setuju jika otak manusia disamakan dengan sebuah komputer canggih. Sophie tidak terlalu sepakat. tentunya otak manusia tidak sesederhana sebuah perangkat keras bukan?!! ketika sampai didepan swayalan sophie dan joanna berpisah.
Sesampainya Sophie dirumah, ia mengecek kotak surat dan betapa kagetnya Sophie ketika ia menemukan sebuah surat berupa amplop putih tertulis : "Sophie Amundsend, 3 Clover Close" tanpa ada nama pengirimnya, bahkan perangkopun tidak. Sophie lalu bergegas menutup pintu gerbang dan bergegas membuka amplop itu. Shopie heran. Dia merasa aneh saat mengeluarkan secarik kertas yang tidak lebih besar dari amplopnya. Didalamnya tertulis "siapakah kamu?". "Pertanyaan yang aneh" batin Sophie. ia bergegas memasuki rumah. Ia menuju kedepan cermin. Ia menatap bayanganya yang terpantul di cermin. "kamu adalah aku" kata Sophie sambil menunjuk bayangannya. tetapi Sophie tidak merasa puas. ia kemudian merubah redaksi kalimatnya "aku adalah kamu" katanya lagi. tetapi lagi-lagi sophie belum puas dengan itu. "Aku adalah Sophie Amundsend" ujar Sophie, tapi bagaimana Sophie bisa yakin bahwa ia adalah Sophie Amunsend. Bagaimana jika ternyata dirinya bukanlah Sophie Amunsend itu. Bagaimana jika ia terlahir dengan nama lain, apakah ia akan tetap menjadi Sophie amunsend saat ini? sukses surat itu membuat Sophie bingung. Sangat bingung.
Surat demi surat datang menghampiri Sophie, sampai suatu ketika sang pengirim surat, guru filsafatnya, Alberto Knox mengajak Sophie untuk bertemu. bertatap muka secara langsung. Hal ini membuat Sophie kaget. Bagaimana mungkin ia akan bertemn\u dengan orang yang ia tidak kenal sama sekali. Gereja St. Mary, tempat yang telah ditentukan oleh Alberto Knox untuk bertemu dengan sophie. Alberto menyuruh Sophie datang ke Gereja itu pagi - pagi sekali. Sophie menyusun rencana untuk menipu ibunya. Ia berbohong kepada ibunya, bahwa ia menginap di rumah joanna. Sophie melaksanakan aksinya, ia menuju Gereja St. Marry. Sudah hampir jam delapan ketika dia berdiri di pintu masuk gereja batu kuno itu. Sophie mencoba membuka pintu besar. Tidak terkunci! Sophie melangkahkan kakinya, memasuki gereja kuno itu dan......
Surat demi surat datang menghampiri Sophie, sampai suatu ketika sang pengirim surat, guru filsafatnya, Alberto Knox mengajak Sophie untuk bertemu. bertatap muka secara langsung. Hal ini membuat Sophie kaget. Bagaimana mungkin ia akan bertemn\u dengan orang yang ia tidak kenal sama sekali. Gereja St. Mary, tempat yang telah ditentukan oleh Alberto Knox untuk bertemu dengan sophie. Alberto menyuruh Sophie datang ke Gereja itu pagi - pagi sekali. Sophie menyusun rencana untuk menipu ibunya. Ia berbohong kepada ibunya, bahwa ia menginap di rumah joanna. Sophie melaksanakan aksinya, ia menuju Gereja St. Marry. Sudah hampir jam delapan ketika dia berdiri di pintu masuk gereja batu kuno itu. Sophie mencoba membuka pintu besar. Tidak terkunci! Sophie melangkahkan kakinya, memasuki gereja kuno itu dan......
***
Cara penulis menyampaikan materi filsafatnya sangat menarik. Para pembaca diajak memposisikan sebagai tokoh utama novel ini, yaitu Sophie Amunsend. Sehingga para pembaca merasa tertarik masuk dalam perkara-perkara yang dibuat oleh penulis. Masalah yang dihadirkan oleh penulis juga sangat kompleks. Sebuah problema yang tidak sempat terfikirkan. Para pembaca juga disuguhi filsafat dengan kalimat-kalimat yang sederhana sehingga paradigma pembaca tentang filsafat itu sulit dan rumit berubah. "ternyata tidak. filsafat tidak serumit itu" mungkin kalimat itu yang diinginkan oleh penulis dari para pembaca..
Menurut saya Jostein Gaarder sengaja menghadirkan tokoh seorang gadis berusia 14 tahun dengan plot sedang diajari filsafat oleh seseorang yang bernama Alberto Knox agar para pembaca yang sudah dewasa "tersindir" bahwa filsafat itu mudah. hihhihi <(^_^)> dan juga Jostein juga ingin menyadarkan para orang dewasa agar terlepas dari kabut dunia dan kenyamanan dunia.
Pemberian teori-teori yang dikemukakan oleh para filsuf purba seperti Plato, Aristoteles, Anaxemindes, Democritus, dsb tidak terlalu kaku, sehingga para pembaca tidak merasa sedang membaca sebuah buku pelajaran filsafat melainkan sedang membaca buku dongeng. heheh.. (^_^). Kalimat yang digunakan oleh Jostein tidak terlalu bertele-tele atau berputar-putar. kalimatnya tegas dan to the point, memungkinkan agar pembaca tidak terlalu bingung mencerna filsafat. Menurut saya, buku ini good recomended untuk 16 tahun keatas, karena pada masa itulah pencarian hidup oleh seorang manusia dimulai dan hal itu bisa dimulai dengan membaca buku ini. heheeh.. 6(^-^)9
Novel ini juga cukup dapat menerbitkan senyum di wajah para pembaca. Pernyataan-pernyataan aneh dan kocak yang dilontarkan oleh Sophie saat memepelajari filsafat membuat saya tersenyum sesekali. Ada sebuah part yang menurut saya lucu (entah selera humor saya yang kurang baik)yaitu, saat ibu sophie mengira anaknya sedang jatuh cinta, ibunya juga mengira anaknya sedang terlibat asmara dengan pecandu obat-obatan.
Covernya, ada kemiripan dengan cover Harry Potter cetakan lama. Tapi Covernya lumayanlah, cukup menggugah hati untuk membaca. tetapi menurut saya, interesrting level-nya bakal lebih naik jika novel ini dikemas dengan hardcover yang tebal, terbuat dari kulit, sehingga kesan filsafatnya lebih menonjol. Dan sensasi ke-kuno-annya juga menonjol. Saya suka yang berbau lama dan kuno. tapi mungkin level cost-nya mungkin akan naik juga. heheh..
Dunia Sophie. Karya yang cerdas, inspiratif, dan menggugah kesadaran akan kebenaran keeksistensian dunia dan manusia. Karya yang cerdas serta memanjakan otak. SELAMAT MEMBACA.. <(^_^)>. 6(^-^)9

Tidak ada komentar:
Posting Komentar